Friday, March 6, 2015

Kelaparan di Eropa

Siapa bilang di Eropa bisa makan enak? Yang ada kelaparan sampai terbawa mimpi.

Saya bersyukur lahir di keluarga yang berkecukupan. Walaupun tidak bisa dibilang kaya, namun saya tidak pernah pusing soal makan sehari-hari. Selama 20 tahun hidup, Alhamdulillah belum pernah merasakan kelaparan karena tidak punya makanan (yang ada lapar karena puasa :p). Siapa sangka, beberapa bulan yang lalu saya mengalaminya. Tepatnya saat saya jalan backpackeran di benua biru alias Eropa.

Di bus Eurolines dalam perjalanan Berlin-Paris yang lamanya 7 jam, saya meringkuk menahan lapar. Perut sudah melilit saking kosongnya. Melihat bule di sebelah membuka bekal semangkuk buah-buahan segar, air liur langsung menetes (dalam mulut, untungnya). Serius, belum pernah saya merasa selapar itu sampai ngiler. Maklum sudah hampir dua hari itu tidak makan. Karena tidak tahan, akhirnya saya bawa tidur saja. Namun otak memang tidak bisa dibohongi. Saya yang tidak pernah mimpi kalau tidur di jalan, malam itu memimpikan makanan yang berlimpah. Bayangkan, alangkah kecewanya saat saya terbangun oleh suara batuk pak supir dan mendapati perut saya masih melilit.

Kenapa saya tidak makan? Karena, untuk pertama kali dalam hidup, saya tidak mampu beli makanan. Saya akui perjalanan ini sangat menguras budget yang sudah terbatas. Saya menahan diri karena esok hari saya sudah akan kembali ke Indonesia, dan di pesawat tentunya dapat jatah makan. Namun karena sudah tak kuat, pada pemberhentian bus berikutnya, saya beli roti tawar sebungkus seharga EUR 1.5 (IDR 24000). Namanya roti tawar memang hambar, tapi roti ini rasanya kalah dibanding salah satu merk roti yang sering saya beli di Jakarta.

Inilah alasan kedua saya tidak makan di Eropa. Di sana, secantik apapun makanan ditata di piring, tidak akan menggoyang lidah seheboh masakan sederhana warteg Indonesia. Selama dua minggu di sana, hanya beberapa kali saya makan layak; dari paket konferensi yang jadi tujuan utama ke sana, ditraktir host di Paris dan Budapest, dan ditraktir ibu-ibu Indonesia baik yang bertemu di depan gereja Slovakia. Semuanya tampak enak. Tapi itu hanya tampaknya saja.


Ini makanan saya ketika konferensi di Groningen, Belanda. Namanya pasta jamur, termasuk salah satu menu vegetarian yang disajikan panitia konferensi. (Muslim adalah alasan ketiga saya kelaparan di Eropa.  Cari makanan halal, sulit. Begitu ada, mahal, hehe). Pasta jamur ini tampilannya sekelas restoran, ya, namun rasanya kalah jauh dengan rendang Bu Eha yang buka lapak di dekat kos saya.


Yang ini grilled salmon, harganya EUR 18 (IDR 288000) sepiring. Untungnya saya ditraktir seorang tante-tante Indonesia yang kebetulan bertemu di jalan. Saat itu saya sedang kepanasan di depan gereja di Bratislva, Slovakia. Tiba-tiba dengar seorang ibu menyapa dengan bahasa Indonesia. Senangnya, bertemu orang Indonesia di tempat yang tidak terduga. Beliau pun dengan royalnya mentraktir saya makan siang di kafe keren (satu-satunya makanan keren saya selama dua minggu di Eropa!). Tampak menggoda sekali ya, Salmonnya? Tapi ya jangan disamakan rasanya dengan pindang bandeng buatan mbah nun jauh di Lamongan sana :”) Walaupun salmonnya segar, bumbunya cuma lemon yang ada di ujung piring itu.


Kalau ini kita semua pasti sudah kenal, French Fries. Harganya EUR 5 seporsi (IDR 80000). Saya makan ini di Brussel, Belgia, itu juga ditraktir tante saya yang memang orang sana. Melimpah ruah, sausnya lumer, tampak lezat bukan? Percayalah, masih lebih yahud singkong keju yang dimakan panas-panas sembari hujan di teras rumah!

Rasa memang soal selera. Saya yang dibesarkan di Indonesia, negeri yang memikat bangsawan Eropa dengan rempahnya ratusan tahun lalu, mana kuat makan makanan yang bumbunya lemon doang?

Karena itulah, ketika pramugari di pesawat Amsterdam-Jakarta yang membawa saya pulang menawarkan pilihan makanan “gulai ayam dengan buncis kuning” atau “beef steak with potato wedges”, dengan mantap saya menjawab “gulai ayam” J

Thursday, October 23, 2014

Brussels, Belgium #2


Hari kedua di Eropa! Semangat banget doong buat liat-liat secara kemarinnya belom sempet ngapa2in selain foto2 geje di kanal Amsterdam dan kedinginan di Brussel-Noord nunggu dijemput Galis. Akhirnya, jalan-jalan resmi dimulai!

Namanya orang Indonesia, bahkan di Eropa pun budaya ngaret masih dibawa-bawa. Niatnya kami mau mulai jalan pagi-pagi jam 9an. Masalahnya Dina temen travelku yang satu ini super rempong jadi nungguin doi dandan dulu. Tapi gapapa laah, dah jauh2 ini ke Belgia masa jalan2 ga in style, ye ga? ;) Jadi sekitar jam 11 kami (aku, Dina, Galis, dan Bi Eni) cus ninggalin apartemen. Dina sengaja minjem coat item punya Galis biar lebih gaya, sementara aku pake coat merah andalan (modal pinjem juga deng wkwk).Sebenernya di Brussel waktu itu dah masuk late spring, jadi cuacanya ga adem2 banget. Tapi dasar orang tropis, norak deh di Eropa maunya make coat yang keren haha buat gaya2 doang. kapan lagi kaan, emang bisa di Jakarta pake coat, yang ada malah amok. Pada akhirnya ga nyesel kok, karena emang masih sejuk2 gitu jadi ga salah kostum amat. Eh malah ngomongin kostum. Yaudah, the adventure begins!

Keluar apartemen, disambut angin Eropa yang kering. Kami jalan ampe stasiun Metro terdekat, yaitu Schuman. Perjalanan ke sana sendiri juga seru, karena lewat semacam square (kalo di bahasa Indonesia jadi "lapangan" kali ya). Katanya Bi eni sih, lapangan ini jadi pasar kaget kalo hari-hari tertentu. Herannya pas itu lapangannya bersih, ga nyangka deh kalo sebenernya merupakan pasar. Sampe stasiun metro, ini pertama kalinya naik metro ya, maapin norak :p. Stasiunnya underground, jadi turun eskalator dulu.

Ayo keliling kota!

Beli tiket (€6,5 buat seharian) trus bebas deh mau naik metro ke mana aja di Brussel selama 24 jam. Sejujurnya aku waktu itu ga merhatiin turun di mana-mana aja, soalnya kan kita bawa tour guide jadi lupa deh :'D tapi inget ada satu stasiun transit namanya "De Brouckere" di mana kita poto2 sambil nunggu metro nya dateng (ketauan lho berapa menit lagi datengnya, dan akurat ga kaya busway hahah). Trus turun di suatu stasiun yang lupa namanya, kita mulai jalan2 keliling pusat kota Brussel. Yang enak dari Brussel adalah, hampir semua atraksi sightseeingnya terletak di satu area, jadi kita bisa keliling2 ngeliat semuanya on foot. Tujuan utama adalah Brussel Centrum, di mana terdapat salah satu tujuan klasik para turis yaitu Grand Place. Secara bahasa Indonesia, bisa diartikan "Lapangan besar" atau "alun-alun" kali ya. Memang lapangan ini merupakan pusat kota Brussel, dan di sekitarnya terdapat gedung-gedung tua cantik nan "Eropa banget". Yang paling menarik mata mungkin adalah "Maison du Roi" yang memang terlihat paling mencolok di antara bangunan2 lain di sekitarnya. Kata Bi Eni, arsitek bangunan ini bunuh diri karena merasa ga sempurna dalam membangun. Bi Eni nunjuk Maison du Roi dan menyadarkanku akan ketidaksimetrisannya. Hmm, tapi walaupun penceng tetep cantik koook!
semacam Geng Motor Brussel di Grand Place. Asikin aja :D notice the asymmetry of the building?

Maison du Roi, atau "Rumah Raja" kalo diIndonesiain


motoin Dina miss fotomodel :D

Fleur de la Bruxelle

mighty gargoyle slayers at the maison du roi

Brussel's City Town Hall. C'est magnifique!
bunga dan bunga-bunga (apaseeeeh wkwk)

Puas foto2 di sekitar centrum yang banyak banget spot2 cantik, kita cari makan siang. Galis dengan semangat ngajak makan Frites, yang adalah kebanggaan kaum Belgia. Tau French Fries kan? Kentang goreng itu? Yap, one thing you should remember, NEVER say French Fries in Belgium, because the proud inventor of the infamous fries is, indeed, the Belgians. Here they call them "Frites". And just as like you'll never taste any better soto Lamongan than in Lamongan, there's no better way to eat Frites than sitting at a cafe in Brussel roadside, watching passers by and chatting all afternoon. Now I feel like European! :D

frites! YUM! btw itu yang namanya Galis, sepupu jauhku :)
Makan kali ini bayarnya €20 buat ber4, disponsori oleh Bi Eni (Merci beaucoup, tante!) Habis makan, galupa foto2 lagi karena di sekitar kafenya juga bagus buat gaya-gayaan B)

wanna join me around Bxl? ;)
Dari kafe itu kita rencananya mau ke Maneken Pis. Tau kan, patung anak kecil yang pipis sambil megang tititnya itu... Ternyata itu khas Belgia lho. Jadi ya ga boleh dilewatkan deeh. Dari daerah situ bisa jalan aja ke sana. Galis udah wanti-wanti jangan kecewa, karena Maneken Pisnya mungkin ga sesuai bayangan alias kecil banget. Dan bener aja, sampe tempat sananya, itu si Maneken Pis kecil banget, paling cuma seukuran bayi beneran. Dia menjulang di balik pagar, lagi pipis di atas batu, dikelilingi serombongan turis-turis yang ramenya ngalahin KRL Jakarta-Bogor di Jumat sore. No hope sih kalo mau foto2. Jadinya ya gada fotonya deh :") although aku dapet foto sama versi lebih gedenya Maneken Pis di depan sebuah toko wafel deket situ.
Si Maneken pipis sambil makan wafel.. jorok ya.. samping tempat sampah lagi..

Kemudian kami lanjut jalan-jalan di sekitar situ, ngeliat beberapa spot menarik: Everard't Serclaes Monument, museum Tintin, Galeries Royale St. Hubert, dan Cathedrale of St. Michael & St. Gudula. namanya susye2 ye :'D

Monument Everard't Serclaes sebenernya adalah patung di pojokan Grand Place, berupa seorang wanita sedang tiduran. Gosipnya sii kalo ngelus ni patung bakal balik lagi ke Brussel suatu hari nanti. :)

Dina ngelus patung, semoga balik lagi ke Brussel. aamiin Ya Allah!
Museum Tintin (di Brussel dibacanya Tangtang, thanks french) isinya semua tentang Tintin! Keren, ada komik2 dan berbagai merchandisenya. Aku baru tau sih kalo Tintin asalnya dari Belgia :p
Tangtang dan Snowy :'D
Mengenai Galeries Royale St. Hubert, atau bahasa Belandanya Koninklijke SintHubertus Galerijen (whateva) adalah salah satu mall tertua di dunia. Bagus banget nih, jadi bayangin sebuah shopping arcade terdiri dari dua facade yang saling berhadapan, dengan desain yang jadul2 keren tentunya. Shoppers (atau windowshoppers) bisa belanja melalui jalanan sempit yang atapnya semacam atap Hogwarts, alias bisa ngeliat langsung ke langit di atasnya. Cakep deh, panel2 kaca gitu. Cuacanya juga lagi cerah banget jadi keliatan cantik :)

Oldest shopping arcade in the world ;)

Pose mupeng di depan cokela terbaik dunia: Belgians'!
 Kalo Cathedrale nya sendiri sih, yaaa mirip2 lah sama yang di depan Istiqlal di Jakarta, cuma ya lebih gede dan lebih bagus aja haha.

Cathedrale de St. Michael & St. Gudula
Capek jalan, akhirnya kita naik metro buat ngeliat Basilica du Sacre Coeur versi Brussel (kan ada satu lagi yang terkenal, yang di Paris). Yang nyaranin Bi Eni, beliau memang katolik jadi tau gereja2 keren di Brussel. Karena mikirnya kapan lagi ke Brussel, aku mah ayo aja!

Turun dari metro, ternyata Basilica nya masih di ujung sana, melewati sebuah jalan panjang yang cantik banget dengan deretan pohon2 hijau di pinggirnya. Gini ya kalo di luar negeri, tertata n apik :") Aku ngebayangin sih jalan ini kalo autumn pasti kece banget deh, warnanya kuning2 oranye gitu.

Basilica dari kejauhan. Hosh hosh

Maunya sih gaya ala-ala girlband cover album gitu tapi fail

Gaya menunggu

Charlie's Angels?
Akhirnya setelah what feels like 1 km (lemah nih) kita nyampe juga di Basilica nya. Boleh masuk lhooo despite aku n Dina kerudungan. Ini pertama kalinya aku masuk gereja. Dan rupanya gereja satu ini spesial karena pernah jadi tempat nikahnya Pangeran Belgia yang kemarin ini nih. Ada foto2nya, mereka dinikahin sama Sri Paus dari Vatican City. Dalemnya Basilica emang kece siih, kaca2 patrinya cantik2 banget.

Altar Basilica... liat kaca2nya deh bagus banget tuh


Dari Basilica ini, Bi Eni keliatan dah capek. Tapi dasarnya emang beliau baik, mau aja beliau nemenin kami ke satu destinasi terakhir yang gaboleh dilewatkan kalo ke Brussel: Atomium! Harus naik tram kalo mau ke sana, soalnya letaknya di ujung kota gitu. Sebenarnya gaenakan, tapi Bi Eni berkeras mau, jadi yaaa gapapa deh.

Sampe Atomium, mau liat2 Mini Europe (ini semacam kota miniatur kaya Madurodam di Belanda, atau kaya TMII deh, tapi dia depict Eropa secara keseluruhan) sayangnya dah tutup (udah jam stg 6 gitu pas sampe sana). Jadinya kita liat2 poster film di Kinepolis,  sebuah bioskop yang keren (mirip kaya Blitz GI gitu, film yang diputer banyak banget). Ga niat nonton sih, uda malem juga walaupun matahari masih bersinar terang benderang. Kayaknya definisi malam harus diganti nih selama di Eropa haha

The weight of an atom....ium

Sweet Carousel








Norak banget ya, maapin :p

banyak kaan pelemnya
Sudah puas keliling Atomium, sudah bener2 waktunya pulang nih. Kita ngopi2 cantik bentar di McD (bukan McD sih, tapi yaa semacam itu lah). Aku mesen ke mbaknya pake French lhooo! Seneng bangeet berkesempatan ngomong Francais sama native ^^ Bubar minum kopi kita pulang de naik metro lagi
Sama Bi Eni di Metro pulang. Merci Bi Enii dah nemenin kita seharian banget :")





Eits, ternyata ada satu tempat lagi yang ga boleh dilewatkan, yaitu sebuah taman yang punya Arc yang mirip ama Brandenburg nya Berlin. Galis nyaranin kita ke sana. Dasar darah muda, energi masih ada, kita pun Ayooo. Kebetulan memang Parc du Cinquantenaire ini deket sama apartemen Galis, jadi doi bersedia nemenin ke sana (zuper makasih!) Galis sendiri emang suka kongkow di taman ini kalo sore-sore dan weekend. Dan ga heran siih, karena tamannya emang oke banget! Apalagi dengan sinar matahari terbenam (saat itu jam 9 malam tapi matahari masih semacam jam 5 nya Indonesia) bikin foto2 jadi makin romantis!

sok sok romantis gitu deh :p

 Parc du Cinquantenaire in the afternoon haze (or should i say evening, cause it was 9 pm)
 Akhirnya, badan (dan kandung kemih) gabisa boong. Sudah bener2 waktunya pulang. Dari Cinquantenaire itu kita jalan ke apartemen (emang gajauh), aku dengan nahan2 pipis yang tanpa sadar sudah super kebelet sejak tadi :") What a day! Brussels, i will come back, insya Allah :) Seenggaknya ngunjungin Galis, Bi Eni, dan Bi Ina lagi. Mereka ini baik bangetttttt jazakumullah yaa tante2 dan Galis :")

Malam itu aku tidur enak, karena besok paginya ngejar bus ke Paris. So,... cerita apa dari Paris? Nantikan post selanjutnya! (insya Allah ga lama, stase bedah mayan santai nih ;)





Friday, August 22, 2014

Brussels, Belgium #1


Sempat terjadi tragedy di awal perjalanan Amsterdam-Brussel. Aku berniat langsung beli tiket bus Eurolines Pass di Amsterdam dan langsung dipake buat jalan ke Brussel hari itu juga. Aku ga booking Pass dari Indonesia karena gapunya credit card :” Ternyataaaaa printer di Eurolines Amsterdam lagi rusak dan gabisa ngeprintin Pass kita. Sepele banget ya masalahnya, tapi karena itu aku harus bayar tiket biasa Amsterdam-Brussel seharga 23 EUR. Habis gimana, mau nyari printer sendiri di luar, ga bisa karena Passnya kudu divalidasi di kantor tsb. Mau beli besoknya aja (Mas Eurolines berjanji printer sudah akan bener esok harinya) tapi kita gada nginep di Amsterdam. Aku uda janji akan datang malam itu juga di Brussel sama bibiku yang bakal kuinepin. Jadilah kita terpaksa keluar 23 EUR, hiks, jangan dirupiahin, bikin setres :” Oiya, golden rule selama di Eropa: NEVER ever convert Euro to Rupiah. Eropa adalah benua yang mahal, dan Euro adalah mata uang yang mahal. Bisa-bisa ga enjoy kalo terus terbayang berapa duit yang kita habisin sambil jalan, haha.

Kurang lebih 3 jam kemudian, sampailah kami di Brussel’s Gare du Nord. Turun dari bus, langsung disambut angin kencang yang amat sangat dingin, lebih dingin daripada di Bromo, lebih dingin daripada angin manapun sepanjang hidupku. Dengan merapatkan coat dan jari-jari yang gemeteran, aku pun memanggul backpack ku ke ruang tunggu di Gare du Nord tsb, sampai akhirnya dijemput sama Galis, sepupu jauhku (jauh banget, kalo dek Izzah ga nikah sama Kak Gilang ni Galis ga akan jadi sepupuku wkwk). Kita naksi ke rumah Galis n bibi Ina :)

Sepanjang jalan, aku belajar bahwa di Brussel ini, beda dengan kota-kota lain di Belgia, bahasanya pake Bahasa Perancis. Kalo kota lain Belgia pakenya bahasa Belanda. Galis juga ngomong ama Monsieur supir taksi pake Francais. Wuihihi senengnyaa bisa denger langsung orang ngobrol Perancis :) Sepanjang jalan juga aku melihat bukti Brussel sebagai "Capital of Europe", di Brussel inilah berdiri markas besar Uni Eropa. Eh tiba-tiba taksi belok dan berhenti. Lhooo rupanya rumah Galis pas bener deket markas EU :D

Belgium, negara bilingual. Everything here has two names; in Dutch and in French. Ini papan nama stasiun Bruxelles Gare du Nord (French) atau Brussel Station-Noord (Dutch) :3

Ini pertama kalinya aku ever set foot di rumah Eropa. Beda laah sama di Indo. Di Eropa mostly rumah adalah model apartment/flat, atau kaya rumah susun lah. Jadi satu bangunan terdiri dari beberapa rumah, satu lantai bisa beberapa rumah. Rumah Galis sendiri ditinggali 3 orang, semuanya orang Indo haha. Ada Bi Ina,. Bi Eni, dan Galis. Di rumah Galis ini modelnya minimalis banget, masuk ada rak sepatu trus pintu ke ruang keluarga, ke kanan ada 2 kamar, toilet, dan kamar mandi, ke kiri ada meja makan yang diletakkan di pojok ruang keluarga, dan dapur. Nyebrang pintu depan adalah beranda yang menghadap jalanan di depan, dihiasi pot-pot bunga yang cantik. Memang, kata Bi Ina, di sini lahan terbatas dan tempat tinggal dibuat seefisien mungkin. Setiap rumah terdaftar dan berapa saja orang yang tinggal juga terdaftar, jadi ga da istilah kamar kosong ga kepake.

Sebenernya ini rumah di Amsterdam sih, tapi yaaa kaya2 gini lah. Cantik kaaan (rumahnya) ;)

 Rak sepatunya, wuihi lucu deh. Isinya ga cuma flats2, ada juga alas kaki berbagai musim kaya boots dan flip-flop. Trus ada lemari kecil di samping rak sepatu buat naro syal2 (yang di sini bukan cuma buat gaya2an tapi fungsional untuk menahan angin kencang). Kamar mandinya pake bathtub dengan lantai kering, yang aku ditegor ama bibi soalnya airnya gocer-gocer. Ampun Bi :") Terus setiap ruangan ada benda pipih aneh yang kemudian hari baru kuketahui adalah pemanas ruangan. Hmmmm, orang tropis mana ngerti ya ama pemanas ruangan, haha.

Yang paling luvly dari rumah-rumah Eropa adalah jendelanya! Jendela di sini gede2 banget, hampir segede tembok itu sendiri. Jadi puas banget liatin jalan di depan, dan terang, dan ga kerasa sempitnya ;) Dan meskipun yang namanya apartemen rumahnya ga nginjek tanah, bukan berarti gabisa punya kebun. Bi Eni yang merupakan botanical enthusiast ternyata merawat anggrek2 cantik lucu yang ditaro di pot-pot di beranda. Ada juga berbagai tanaman gantung yang bikin pemandangan jadi ga boring. Beberapa pot bunga juga ditaro di jendela, jadi makin luvly <3 p="">
Beranda rumah Galis dan jalanan di depannya
 Berhubung aku nyampe rumah Galis uda malem, jam 10 lebih (walau rasanya masih jam setengah 6 karena begitu terangnya), kami memutuskan jalan-jalannya besok saja. Bi Ina rupanya uda masakin soto buatku :") Duh, baru hari pertama di Eropa langsung homesick :"D Ya emang gabisa dibandingin ama soto lamongan asli sih, tapi percaya deh, nemu soto di Eropa itu mewah bingiiittsss. Alhamdulillah :)

-bersambung ke bagian jalan-jalan di Brussel-

Wednesday, June 18, 2014

Eropa vs Indonesia

Selalu ada sisi positif dan negatif dari tiap-tiap sesuatu. Begitu juga dengan Eropa. Ga semuaaa yang kita denger tentang Eropa itu membuktikan Eropa enak, ada juga part-part ga enaknya. Dan jangan pula mengunderestimate tanah air kita ini, karena dalam beberapa hal, Indonesia lebih OK loo daripada Eropa :)

Bagusnya Eropa
1. Transportasi publik
Harus diakui, Indonesia masih kalah jauh dari Eropa dalam dunia perangkotan. Di sana semua moda transportasi umum sangat bagus, teratur, terawat, dan jelas jadwalnya serta rutenya. Hampir semua kota besar dilengkapi jaringan kereta bawah tanah (metro, subway, dll). Di Paris misalnya, jaringan metro sangat ekstensif, membuat kita bisa ke mana pun di Paris dengan mudah dan cepat. Metro ada setiap 5 menit, jadi insya Allah ga akan sesak-sesak (aku belum pernah naik pas rush hour sih, tapi seenggaknya ga ada tuh cerita gabisa turun dari metro saking penuhnya, ga kaya KRL Jabodetabek). Metro nya juga canggih dan bersih. Peta metro tersedia gratis di semua stasiun, dengan kode warna yang mudah dibaca. Untuk beli tiketnya juga gampang, dari mesin-mesin di tiap stasiun. Setiap berhenti, ada pengumuman suara yang ngasitau ini stasiun mana, dengan suara sengau-sengau Perancis yang seksi :p. Di tiap stasiun metro pun tersedia peta daerah setempat, jadi ga bingung keluar stasiun harus belok ke mana-mana aja untuk sampai tempat tujuan. 

Peta Metro Paris. Suka banget penamaannya :)
Ga cuma di Paris, di Amsterdam, Wina, Budapest, Praha, Berlin, semuanya punya jaringan transportasi yang OK. Di Budapest adalah jaringan metro pertama di dunia (kata guide ku kemaren), dan di sana metronya tua-tua banget gitu, lebih jelek dr KRL Jabodetabek, tapi anehnya lebih terawat :) 

Transportasi ga cuma metro ya, ada juga bus, S-Bahn (kaya KRL gtu, jadi di atas tanah), sama tram (ada jalurnya sendiri di jalan raya), yang semuanya terintegrasi. Beli tiket cukup satu, bisa dipakai buat semua moda transportasi :)

Di sana beli tiketnya biasanya jam-jaman, jadi satu tiket berlaku untuk 30/60/90 menit, tergantung di mananya. Biasanya aku beli tiket yang 24 jam, jadi bisa dipake seharian ke manapun di kota tsb. Dan yang kutemukan aneh adalah biasanya tiket ini ga diperiksa lo :" Yang diperiksa banget cuma di Paris (harus nge-tap tiket di pintu stasiun, kalo nggak ya gabisa keluar masuk), selain itu ngga diperiksa. Ada sih mesin tap, tapi ya sebenernya lo ngga nge-tap juga ga papa. Hmm, mungkin di sana uda ada anggaran buat transportasi umum ya, jadi meski orang2 gabayar pun ga akan rugi :"D tapi sebagai warga negara/turis yang baik, hendaknya anda tetap beli tiket ya :)

2. Surga buat pejalan kaki. 
Pedestrian sangat dihormati di Eropa. Trotoar di sana ga kaya di Indonesia yang penuh PKL dan kumuh, sehingga bikin males jalan kaki. Di sana trotoar lebar, bersih, rata, pokoknya enak banget buat jalan. Apalagi semua pengguna jalan yang lain respek sama pejalan kaki; kalo ada yang mau nyeberang, sepeda/mobil pada berhenti meskipun bukan lampu merah. Kalo di Indonesia kan, liat aja motor-motor yang seenaknya nyerobot lampu merah padahal lagi ada pejalan kaki yang nyebrang :" Terus pemandangannya sendiri juga indah. Rumah di sana modelnya rumah susun/apartemen, jadi banyak ruang terbuka hijau yang menyenangkan buat pejalan kaki. Mobil juga ga penuh banget kaya di sini, sehingga dijamin bersih bebas polusi :)
Trotoar Belanda, bersih ya :)
3. Air minum gratis
Di Eropa, air kran bisa diminum. Aku practically cuma bawa 1 botol kemana-mana, dan kalo abis tinggal ngisi di kran-kran di pinggir jalan. Seger :")

4. Punctual People
Orang Eropa sangat disiplin soal waktu. Dibilang jam 11 ya jam 11. Jam 10.55 uda pada duduk manis. jam 11.01 baru masuk? Udah telat namanya. Jadwal bus, kereta, dll pun begitu. Dijadwalkan jam 12.37 di halte, ya bus akan datang jam segitu. Telat satu menit aja, bus sudah berangkat lagi dan kita harus menunggu bus berikutnya (yang bisa jadi baru ada setiap 20-30 menit). Enaknya, setiap perjalanan kita jadi bisa direncanakan. Pas di Belanda, aku terbantu banget sama website 9292.nl di mana kita tinggal masukin, pergi dari mana hendak ke mana. Web tsb akan mendeteksi berbagai moda transportasi yang bisa dipakai, mencocokkan jadwalnya dg waktu keberangkatan kita, dan secara otomatis mengkalkulasikan waktu jalan yang diperlukan dari halte ke halte. Dan tepat waktu, jadi kita bisa perkirakan dengan tepat jam berapa kita akan sampai di tujuan :)

Bagusnya Indonesia
1. Makanan
Selama backpackingan di Eropa, aku jarang banget beli makanan. Satu, Mahal. Ya kalo dibandingin sama Indonesia, harga sandwich di sana bisa seharga semangkuk rawon dengkul. Dua, ga enak. Ya ini soal selera sih, namanya juga lidah Indonesia, uda terbiasa sama bumbu-bumbu yang kuat. Makanan di Eropa jadi terasa hambar banget, ato kalo nggak hambar ya rasanya aneh, karena bumbu-bumbunya beda dg yang di Indonesia. Tiga, ga tau halal enggaknya. Sekalinya ditraktir tante-tante pun, aku pesen menu ikan yang jelas halal. Susah deh, rindu banget sama daging :") Empat, roti-roti-roti-kentang-nasi. Jarang banget ketemu nasi. I missed nasi :"


Makanan gw di eropa. keliatannya aja enak, rasanya enakan nasi rawon :")

2. Laid-backness
Kebalikannya dari punctual, orang Indo justru kelewat santai. Di satu sisi ini ga bagus ya, karena merugikan orang lain juga kalo kita membuat orang menunggu. Tapi di sisi lain, orang Indonesia nyantai banget, hidup ini dinikmati banget, ga usah dibawa terlalu serius :D Ini keliatan banget bedanya saat berinteraksi sama bule-bule di sana :)

3. Kesopanan
Hehe, bukan apa-apa sih, ini culture shock aja kayaknya. Di Eropa itu PDA menjadi sesuatu yang sangat biasa. Orang berciuman di eskalator, rangkul-rangkulan, peluk-pelukan, semuanya tanpa risih. Ya yang ngeliat macam aku ini risih banget :") Menurutku seharusnya hal seperti itu bukan untuk diumbar-umbar di tempat umum, karena bikin ga nyaman orang yang ngeliat. Bukan karena diriku jomblo terus mupeng ya, tapi yaaaa gaenak aja ga sih, lo lagi buru-buru di eskalator eh di depan lo orang dengan santainya cium-ciuman, seperti dunia milik berdua saja (now I do sound jealous, haha).

4. Masjid di mana-mana
Di Indonesia yang mayoritas muslim, sangat mudah menemui masjid. Jadi gampang banget kalo mau solat atau sekedar ngaso-ngaso, numpang ke toilet, bahkan bisa numpang tidur kalo kepepet. Di Eropa, kalo ga googling ga bakal deh ketemu masjid :") Kalo kepepet gada nginep, ya terpaksa ngemper, kaya pengalamanku kemaren di Praha :") Sholat juga ga bingung kan madep mana, di Eropa aku cuma mengandalkan kompas hp yang ga akurat, bahkan aku sempet melenceng 180 derajat dari kiblat sebenernya -_-"
Lantai 2 bangunan di Praha ini adalah masjid lho, kalo ga nanya ya ga akan ketemu. Siapa sangka ada masjid di situ? :") 
5. Sunny all year long
Di benua 4 musim macam Eropa, yang namanya summer matahari baru terbenam jam 10 malam, dan uda terbit lagi jam 4 pagi. Merepotkan sekali buat equatorians macam saya, yang terbiasa tidur jam 11 bangun jam 4. Lha gimana, mau bobo, masih ada matahari, belum solat maghrib pula. Mau bangun, boro-boro tahajud, bangun jam4 itu waktu subuh uda mau habis :") Ga kebayang deh kalo puasa, lama banget ya haha. Ga denger adzan pula di Eropa, jadi ga tahu ini uda ashar apa blom, haha. Emang Indonesia tampaknya paling ideal buat pemeluk agama Islam, di mana yang namanya solat maghrib itu jam 6, maks 6.30 lah, dan subuh ya jam 4.30, sepanjang tahun :)


Tuesday, June 17, 2014

My First Eurotrip

Eropa. Tanah impian semua orang (atau setidaknya tanah impianku). Menikmati matahari di depan menara Eiffel, menyusuri birunya sungai Danube, piknik di pinggiran kanal Amsterdam, menatap sunset dari cantiknya bukit-bukit Budapest, atau sekedar mengagumi kemegahan bangunan tua di Wina, siapa siiih yang ga pingin?

Alhamdulillah, late spring 2014 kali ini aku berkesempatan menjejakkan kaki di tanah Eropa. Event utamanya sih buat ikutan kongres mahasiswa kedokteran dan biomedis internasional (ISCOMS 2014) di Groningen, Belanda. Dina, temen sekelompok skripsiku, ngirimin karya skripsi kita bersama dan Alhamdulillah lolos presentasi di sana. (Psst, aku gatau lho dia submit. Tau-tau dia ngasi tau pas uda lolos aja, dan ngajak bekpekeran). Mumpung-mumpung lagi libur 4 minggu nih, sekalian aja kita Eurotrip :D Alokasi waktu 2 minggu, dengan budget seminimal mungkin. Jadilah kita berdua ciwi-ciwi hijabers, gone to our first backpacking trip across EUROPE!

Perjalanan dimulai dengan penerbangan GA 88 CGK-AMS tanggal 30 Juni jam 00.55 dini hari. Kenapa pilih Garuda? Karena satu-satunya maskapai yang merespon proposal kami dan ngasi diskon buat airfare nya. Yaay! Total kami bayar USD 925 buat PP Jakarta-Amsterdam. Mayan laah, kalo selevel Garuda biasanya jauh lebih dari itu, minimal USD 1200 lah. Trus ternyata, flight kami yang tanggal 30 itu merupakan penerbangan Garuda pertama yang direct Jakarta-Amsterdam tanpa transit. Istilahnya Inauguration Flight. Sebelumnya aku juga tau sih kalo GA CGK-AMS itu direct, tapi aku gatau kalo ternyata tgl 30 Juni itu penerbangan direct pertama :p Kami para penumpang disambut dengan buffet enak di ruang tunggu boarding (dimsum, bakso malang, quiche Lorraine, berbagai minuman segar, dll) dan dikasi souvenir eksklusif scarf sutra yang cantik banget J Alhamdulillah ya, belum berangkat uda ada keberuntungan macam ini, semoga pertanda baik buat perjalanan selanjutnya J

Sampai Amsterdam jam 9 paginya (perjalanan direct flight 14 jam, dengan perbedaan waktu Amsterdam 5 jam lebih lambat daripada Jakarta). Di bandara Amsterdam Schiphol pun kami disambut noni-noni Belanda yang bagiin tulip kayu dengan tag “Inauguration Flight Garuda Indonesia Jakarta-Amsterdam” yeey!

Kesan pertama di Eropa: rapih! Aku bukannya asing ya, dulu juga sempet ke bandara KLIA di KL, Malaysia. Schiphol ini ya mirip-mirip KLIA gitu lah, ya jangan dibandingin sama Soekarno-Hatta, wkwk. Bandaranya bersih banget dan gede banget.

Kesan kedua: Culture shock! Baru aja keluar di pintu arrival, eh ada pasangan bule yang dengan cueknya cium-ciuman. Hehe, baru pertama kali ini liat orang ciuman langsung dengan mata kepala sendiri. Di Eropa yang namanya PDA udah biasa ya, ga berapa lama kemudian juga aku menemukan banyak yang semacam itu; peluk-pelukan, gandeng-gandengan, dll. Biasa aja di sana, yang ga biasa ya akunya, risih, haha.
Setelah berbingung-bingung finding our way around Schiphol, kita pun naik kereta ke pusat kota Amsterdam. Stasiun keretanya pas di bawah bandara, jadi tinggal turun escalator doang. Harga tiket sampe stasiun Amsterdam central 4,5 Euro. Keretanya juga oke bgt bo, double decker. Dan free wifi :D

Sesampainya di Central Station, aku nitipin koper ke seorang temen di Amsterdam, sebut saja Bunga (emang namanya Bunga btw :p) Daaaan perjalanan Eurotrip of my life pun dimulai!
Secara kasar, selama 17 hari aku di Eropa, aku merencakan ke tempat-tempat berikut:
  •           Amsterdam, NL
  •           Groningen, NL (for the congress)
  •           Brussel, BE
  •           Paris, FR
  •           Praha, CZ
  •           Wina, AU
  •           Roma, IT
  •           Barcelona, SP
  •           Berlin, DE

Untuk ke mana-mananya, setelah googling2 dan tanya2, metode paling murah dan feasible adalah dengan Eurolines Pass. Eurolines itu nama perusahaan bus gitu, yang melayani perjalanan across Europe. Harga buat under 26 di bulan itu (mid-season) adalah 215 EUR, yang dengan Pass tsb kita bebas ke mana aja di Eropa selama 15 hari. Literally ke mana aja, mulai dari Eropa selatan macam Spanyol Itali sampai Eropa Utara negaranya para Viking Skandinavia, bahkan sampe UK. Tapi yaa karena keterbatasan waktu, akhirnya itinerary kita jadi begini:
Amsterdam – Brussel – Paris – Amsterdam – Groningen – Amsterdam – Budapest – Bratislava – Wina – Praha – Berlin – Paris – Amsterdam.


Ke Amsterdamnya berkali-kali ya, istilahnya sebagai tempat transit, soalnya kan kita naro koper di sana, dan setelah kongres di Groningen kita emang kudu balik Amsterdam dulu sebelum ke Budapest karena gada trayek Groningen – Budapest. Terus Paris nya dua kali, karena Paris emang ga cukup sekali J 

Sebenarnya kita berat banget ngorbanin Roma – Barcelona, tapi dilihat dari waktu dan ketersediaan jadwal bus, habis dari Roma itu kita susah banget kemana-mana. Bus dari Roma Cuma seminggu 2-3 kali itu pun Cuma ke kota-kota tertentu. Jadilah kita ganti tujuan ke Budapest. Padahal tadinya uda booking Amsterdam – Roma loh, dan uda ngebayangin bakal mengagumi kejayaan Romawi dan bakal do as the Romans do. Tapi ya harus realistis lah, waktu terbatas dan budget pas-pasan. Bye Roma, bye Barcelona, semoga diketemuin lagi di waktu yang lebih baik dan bersama orang yang lebih special (ngayaaal wkwk :”))

---bersambung ke cerita masing-masing kota

Wednesday, May 7, 2014

An Abundace of Katherines, a review

I've been wanting to read John Green novels since... like a year, but I just could not get hold of him. When I went to Jogja last November, I saw my friend's copy of "The Fault in Our Stars" and "Will Grayson, Will Grayson" on her shelf, but of course I could not borrow because she lives in Jogja. When last week I spent a lazy afternoon in Gramedia Grand Indonesia, I came across a John Green's box set, English edition, but what a splurge (box set consisting 4 books, @IDR135000). So since I have nothing much to do at the moment, I decided to Google and download them (Sorry John, but I want you to know that I do support you, I just do not have the money).

My first experience of John Green is not "The Fault in Our Stars", as others would expect. Instead I started on "An Abundance of Katherines", because I found the synopsis about a boy who fall in love and get dumped by 19 Katherines intriguing.

Colin Singleton is a prodigy, as he would so often explain to others about differences between "prodigy" and "genius". He is said to have an IQ above 200, and he was able to read newspapers by the age of 25 months old. While other prodigies excel at math, Colin found himself gifted in linguistic. He speaks 11 languages, and if that is not enough, he can anagram any sentences/phrases/words you throw at him. He does love anagramming. He even anagram "I do love anagramming" to "dragon maggot mania".

Colin's parents work so hard to keep him "normal", admit him in normal school with normal people in normal age. And so Colin grows to be a socially-sufficient young guy, who has friend (just one, though), and falls in love with girls. What makes Colin different, is that he does not fall in love with any girls, he just falls for girls named Katherine. And by the time the story starts, he is just get dumped by Katherine the 19th (or K-XIX, as you'd please). He just moped on his carpet until his friend Hassan took him on a roadtrip. They ended up in Gutshot, Tennessee, while randomly visited Archduke Franz Ferdinand's grave whose corpse started the World War I. They met a nice local girl, with whom they made friends instantly. Her mother even got them jobs and let them stay in her house. And there the story goes about Colin's attempt to overcome his heartbreak. As prodigies would do, he spent his days working on Colin-Katherines Theorem, which he invented based on his previous relationships with Katherines. He hoped someday he'd find the Theorem useful in helping him predict a happy relationship with a Katherine.

I like this book. Although the Colin character is unbearably whiny, he sure displays a prodigy quality (and that is what I like, smart guys). It is amazing to listen to Colin trying to tell a story, because he often rambles and tell extraneous details that interests only him. Like, when he tells you about how he wanted to matter, then he shifted to tell you about the time he first thought about being matter when he wanted to pee in a zoo, and why he wanted to pee is because overhydration, and how 8-glass a day is bullshit since there's really no scientific proof of its benefit, and how people just take things like that for granted because they are incurious, and how incurious is one of those words that sounds like it wouldn't be a word but is.

I am amazed to watch how Colin's brain work. Do you know how he can be so good in studying? He reads a lot, and he memorizes almost any details in every book he has read. Like, when we came across an interesting details in a book, it becomes stuck in our mind. Well, Colin found everything interesting. And he always found a reason why they fascinate him.

And reading this book surely adds me a whole lot of random trivia, like about Franz Ferdinand, and about German word for carpenter is Tischler. Random, right, but I think I can relate to Colin and his interest in random stuff.

If there's one thing I disliked about this book, it is about the math. Proving a Colin-Katherine Theorem includes a lot of math, and I just can't take that loads.

So, I am looking forward for another John Green. Any suggestion on what should I do next? "The Fault in Our Stars"? "Looking for Alaska"? or maybe "Paper Towns"?

Thursday, May 1, 2014

Exciting Invitations

Long time no update? heeee forgive me ;(

So, koas life will end in 2 weeks! How fast time flies! Of course I still have Internal meds, Peds, Surgery, and Obgyn, but let's not worry about them until August :D

Now I am on cardiology rotation, held in National Cardiovascular Center Harapan Kita, which is in Grogol, which is like 30 min bus ride from my place, which is why I've been so early birdie these days. Cardiology is FUN. Remember that times when I said I plan to be a cardiologist? I'd been discouraged since cardiology module on 4th semester was disappointing, but now that I am getting hands-on clinical experience, I remember why I want to be cardiologist in the first place.

Cardiology studies the heart. Heart is the "heart" of our bodies; disease of the heart can manifest in a hell lot of presentations. The common chest pain, the ugly swollen legs, the sudden blinding of the eyes, the cranky stomach, everything. Since heart pumps blood, and everything needs blood. So when heart fails, everything fails. All the more fun, studying the heart is sooo logical, I almost don't have to memorize anything as long as I know how the heart works! Unlike neurology when I have to memorize the neural pathways, in cardiology I just need to understand the normal heart cycle, and voila! I know what murmur in all four-auscultation-sites mean. This is what you'd call fun. Logic.

And after cardiology, I'll have 4 weeks holiday! I've already gotten a very interesting invitation to present my research in Groningen, The Netherlands. I need a lot of money though. I am working on it, since THIS IS GONNA BE MY FIRST EUROTRIP! KYAAAA!!! (I reeaaaallly wish I did the fundraising right, otherwise, who on earth has IDR20000000?? Well I guess a lot of people have, but I dont have 20M)

Should my Eurotrip fails (Which I hope WON'T), I still have another offer to be a LO in ..... drumroll..... INTERNATIONAL BIOLOGY OLYMPIAD a.k.a IBO 2014! The event of my dream! This year they're holding the IBO in Bali, Indonesia. Regisrations for volunteer had been commenced, and after a Youtube post and an interview, I GOT IN. I'LL BE IN IBO! heheheheheh forgive me for being overexcited, but this is really really exciting! I could only dream about IBO since I failed on OSP 2009, but now, I'll be joining IBO 2014 :") All thanks to Allah and superkind dr. K (head of EBM module) who agreed to arrange a special exam for me so I could join this IBO (I happen to be having an exam while IBO is in action, so I need to reschedule my exam) :D Well, can't wait for July 2nd!