Friday, August 22, 2014

Brussels, Belgium #1


Sempat terjadi tragedy di awal perjalanan Amsterdam-Brussel. Aku berniat langsung beli tiket bus Eurolines Pass di Amsterdam dan langsung dipake buat jalan ke Brussel hari itu juga. Aku ga booking Pass dari Indonesia karena gapunya credit card :” Ternyataaaaa printer di Eurolines Amsterdam lagi rusak dan gabisa ngeprintin Pass kita. Sepele banget ya masalahnya, tapi karena itu aku harus bayar tiket biasa Amsterdam-Brussel seharga 23 EUR. Habis gimana, mau nyari printer sendiri di luar, ga bisa karena Passnya kudu divalidasi di kantor tsb. Mau beli besoknya aja (Mas Eurolines berjanji printer sudah akan bener esok harinya) tapi kita gada nginep di Amsterdam. Aku uda janji akan datang malam itu juga di Brussel sama bibiku yang bakal kuinepin. Jadilah kita terpaksa keluar 23 EUR, hiks, jangan dirupiahin, bikin setres :” Oiya, golden rule selama di Eropa: NEVER ever convert Euro to Rupiah. Eropa adalah benua yang mahal, dan Euro adalah mata uang yang mahal. Bisa-bisa ga enjoy kalo terus terbayang berapa duit yang kita habisin sambil jalan, haha.

Kurang lebih 3 jam kemudian, sampailah kami di Brussel’s Gare du Nord. Turun dari bus, langsung disambut angin kencang yang amat sangat dingin, lebih dingin daripada di Bromo, lebih dingin daripada angin manapun sepanjang hidupku. Dengan merapatkan coat dan jari-jari yang gemeteran, aku pun memanggul backpack ku ke ruang tunggu di Gare du Nord tsb, sampai akhirnya dijemput sama Galis, sepupu jauhku (jauh banget, kalo dek Izzah ga nikah sama Kak Gilang ni Galis ga akan jadi sepupuku wkwk). Kita naksi ke rumah Galis n bibi Ina :)

Sepanjang jalan, aku belajar bahwa di Brussel ini, beda dengan kota-kota lain di Belgia, bahasanya pake Bahasa Perancis. Kalo kota lain Belgia pakenya bahasa Belanda. Galis juga ngomong ama Monsieur supir taksi pake Francais. Wuihihi senengnyaa bisa denger langsung orang ngobrol Perancis :) Sepanjang jalan juga aku melihat bukti Brussel sebagai "Capital of Europe", di Brussel inilah berdiri markas besar Uni Eropa. Eh tiba-tiba taksi belok dan berhenti. Lhooo rupanya rumah Galis pas bener deket markas EU :D

Belgium, negara bilingual. Everything here has two names; in Dutch and in French. Ini papan nama stasiun Bruxelles Gare du Nord (French) atau Brussel Station-Noord (Dutch) :3

Ini pertama kalinya aku ever set foot di rumah Eropa. Beda laah sama di Indo. Di Eropa mostly rumah adalah model apartment/flat, atau kaya rumah susun lah. Jadi satu bangunan terdiri dari beberapa rumah, satu lantai bisa beberapa rumah. Rumah Galis sendiri ditinggali 3 orang, semuanya orang Indo haha. Ada Bi Ina,. Bi Eni, dan Galis. Di rumah Galis ini modelnya minimalis banget, masuk ada rak sepatu trus pintu ke ruang keluarga, ke kanan ada 2 kamar, toilet, dan kamar mandi, ke kiri ada meja makan yang diletakkan di pojok ruang keluarga, dan dapur. Nyebrang pintu depan adalah beranda yang menghadap jalanan di depan, dihiasi pot-pot bunga yang cantik. Memang, kata Bi Ina, di sini lahan terbatas dan tempat tinggal dibuat seefisien mungkin. Setiap rumah terdaftar dan berapa saja orang yang tinggal juga terdaftar, jadi ga da istilah kamar kosong ga kepake.

Sebenernya ini rumah di Amsterdam sih, tapi yaaa kaya2 gini lah. Cantik kaaan (rumahnya) ;)

 Rak sepatunya, wuihi lucu deh. Isinya ga cuma flats2, ada juga alas kaki berbagai musim kaya boots dan flip-flop. Trus ada lemari kecil di samping rak sepatu buat naro syal2 (yang di sini bukan cuma buat gaya2an tapi fungsional untuk menahan angin kencang). Kamar mandinya pake bathtub dengan lantai kering, yang aku ditegor ama bibi soalnya airnya gocer-gocer. Ampun Bi :") Terus setiap ruangan ada benda pipih aneh yang kemudian hari baru kuketahui adalah pemanas ruangan. Hmmmm, orang tropis mana ngerti ya ama pemanas ruangan, haha.

Yang paling luvly dari rumah-rumah Eropa adalah jendelanya! Jendela di sini gede2 banget, hampir segede tembok itu sendiri. Jadi puas banget liatin jalan di depan, dan terang, dan ga kerasa sempitnya ;) Dan meskipun yang namanya apartemen rumahnya ga nginjek tanah, bukan berarti gabisa punya kebun. Bi Eni yang merupakan botanical enthusiast ternyata merawat anggrek2 cantik lucu yang ditaro di pot-pot di beranda. Ada juga berbagai tanaman gantung yang bikin pemandangan jadi ga boring. Beberapa pot bunga juga ditaro di jendela, jadi makin luvly <3 p="">
Beranda rumah Galis dan jalanan di depannya
 Berhubung aku nyampe rumah Galis uda malem, jam 10 lebih (walau rasanya masih jam setengah 6 karena begitu terangnya), kami memutuskan jalan-jalannya besok saja. Bi Ina rupanya uda masakin soto buatku :") Duh, baru hari pertama di Eropa langsung homesick :"D Ya emang gabisa dibandingin ama soto lamongan asli sih, tapi percaya deh, nemu soto di Eropa itu mewah bingiiittsss. Alhamdulillah :)

-bersambung ke bagian jalan-jalan di Brussel-

Wednesday, June 18, 2014

Eropa vs Indonesia

Selalu ada sisi positif dan negatif dari tiap-tiap sesuatu. Begitu juga dengan Eropa. Ga semuaaa yang kita denger tentang Eropa itu membuktikan Eropa enak, ada juga part-part ga enaknya. Dan jangan pula mengunderestimate tanah air kita ini, karena dalam beberapa hal, Indonesia lebih OK loo daripada Eropa :)

Bagusnya Eropa
1. Transportasi publik
Harus diakui, Indonesia masih kalah jauh dari Eropa dalam dunia perangkotan. Di sana semua moda transportasi umum sangat bagus, teratur, terawat, dan jelas jadwalnya serta rutenya. Hampir semua kota besar dilengkapi jaringan kereta bawah tanah (metro, subway, dll). Di Paris misalnya, jaringan metro sangat ekstensif, membuat kita bisa ke mana pun di Paris dengan mudah dan cepat. Metro ada setiap 5 menit, jadi insya Allah ga akan sesak-sesak (aku belum pernah naik pas rush hour sih, tapi seenggaknya ga ada tuh cerita gabisa turun dari metro saking penuhnya, ga kaya KRL Jabodetabek). Metro nya juga canggih dan bersih. Peta metro tersedia gratis di semua stasiun, dengan kode warna yang mudah dibaca. Untuk beli tiketnya juga gampang, dari mesin-mesin di tiap stasiun. Setiap berhenti, ada pengumuman suara yang ngasitau ini stasiun mana, dengan suara sengau-sengau Perancis yang seksi :p. Di tiap stasiun metro pun tersedia peta daerah setempat, jadi ga bingung keluar stasiun harus belok ke mana-mana aja untuk sampai tempat tujuan. 

Peta Metro Paris. Suka banget penamaannya :)
Ga cuma di Paris, di Amsterdam, Wina, Budapest, Praha, Berlin, semuanya punya jaringan transportasi yang OK. Di Budapest adalah jaringan metro pertama di dunia (kata guide ku kemaren), dan di sana metronya tua-tua banget gitu, lebih jelek dr KRL Jabodetabek, tapi anehnya lebih terawat :) 

Transportasi ga cuma metro ya, ada juga bus, S-Bahn (kaya KRL gtu, jadi di atas tanah), sama tram (ada jalurnya sendiri di jalan raya), yang semuanya terintegrasi. Beli tiket cukup satu, bisa dipakai buat semua moda transportasi :)

Di sana beli tiketnya biasanya jam-jaman, jadi satu tiket berlaku untuk 30/60/90 menit, tergantung di mananya. Biasanya aku beli tiket yang 24 jam, jadi bisa dipake seharian ke manapun di kota tsb. Dan yang kutemukan aneh adalah biasanya tiket ini ga diperiksa lo :" Yang diperiksa banget cuma di Paris (harus nge-tap tiket di pintu stasiun, kalo nggak ya gabisa keluar masuk), selain itu ngga diperiksa. Ada sih mesin tap, tapi ya sebenernya lo ngga nge-tap juga ga papa. Hmm, mungkin di sana uda ada anggaran buat transportasi umum ya, jadi meski orang2 gabayar pun ga akan rugi :"D tapi sebagai warga negara/turis yang baik, hendaknya anda tetap beli tiket ya :)

2. Surga buat pejalan kaki. 
Pedestrian sangat dihormati di Eropa. Trotoar di sana ga kaya di Indonesia yang penuh PKL dan kumuh, sehingga bikin males jalan kaki. Di sana trotoar lebar, bersih, rata, pokoknya enak banget buat jalan. Apalagi semua pengguna jalan yang lain respek sama pejalan kaki; kalo ada yang mau nyeberang, sepeda/mobil pada berhenti meskipun bukan lampu merah. Kalo di Indonesia kan, liat aja motor-motor yang seenaknya nyerobot lampu merah padahal lagi ada pejalan kaki yang nyebrang :" Terus pemandangannya sendiri juga indah. Rumah di sana modelnya rumah susun/apartemen, jadi banyak ruang terbuka hijau yang menyenangkan buat pejalan kaki. Mobil juga ga penuh banget kaya di sini, sehingga dijamin bersih bebas polusi :)
Trotoar Belanda, bersih ya :)
3. Air minum gratis
Di Eropa, air kran bisa diminum. Aku practically cuma bawa 1 botol kemana-mana, dan kalo abis tinggal ngisi di kran-kran di pinggir jalan. Seger :")

4. Punctual People
Orang Eropa sangat disiplin soal waktu. Dibilang jam 11 ya jam 11. Jam 10.55 uda pada duduk manis. jam 11.01 baru masuk? Udah telat namanya. Jadwal bus, kereta, dll pun begitu. Dijadwalkan jam 12.37 di halte, ya bus akan datang jam segitu. Telat satu menit aja, bus sudah berangkat lagi dan kita harus menunggu bus berikutnya (yang bisa jadi baru ada setiap 20-30 menit). Enaknya, setiap perjalanan kita jadi bisa direncanakan. Pas di Belanda, aku terbantu banget sama website 9292.nl di mana kita tinggal masukin, pergi dari mana hendak ke mana. Web tsb akan mendeteksi berbagai moda transportasi yang bisa dipakai, mencocokkan jadwalnya dg waktu keberangkatan kita, dan secara otomatis mengkalkulasikan waktu jalan yang diperlukan dari halte ke halte. Dan tepat waktu, jadi kita bisa perkirakan dengan tepat jam berapa kita akan sampai di tujuan :)

Bagusnya Indonesia
1. Makanan
Selama backpackingan di Eropa, aku jarang banget beli makanan. Satu, Mahal. Ya kalo dibandingin sama Indonesia, harga sandwich di sana bisa seharga semangkuk rawon dengkul. Dua, ga enak. Ya ini soal selera sih, namanya juga lidah Indonesia, uda terbiasa sama bumbu-bumbu yang kuat. Makanan di Eropa jadi terasa hambar banget, ato kalo nggak hambar ya rasanya aneh, karena bumbu-bumbunya beda dg yang di Indonesia. Tiga, ga tau halal enggaknya. Sekalinya ditraktir tante-tante pun, aku pesen menu ikan yang jelas halal. Susah deh, rindu banget sama daging :") Empat, roti-roti-roti-kentang-nasi. Jarang banget ketemu nasi. I missed nasi :"


Makanan gw di eropa. keliatannya aja enak, rasanya enakan nasi rawon :")

2. Laid-backness
Kebalikannya dari punctual, orang Indo justru kelewat santai. Di satu sisi ini ga bagus ya, karena merugikan orang lain juga kalo kita membuat orang menunggu. Tapi di sisi lain, orang Indonesia nyantai banget, hidup ini dinikmati banget, ga usah dibawa terlalu serius :D Ini keliatan banget bedanya saat berinteraksi sama bule-bule di sana :)

3. Kesopanan
Hehe, bukan apa-apa sih, ini culture shock aja kayaknya. Di Eropa itu PDA menjadi sesuatu yang sangat biasa. Orang berciuman di eskalator, rangkul-rangkulan, peluk-pelukan, semuanya tanpa risih. Ya yang ngeliat macam aku ini risih banget :") Menurutku seharusnya hal seperti itu bukan untuk diumbar-umbar di tempat umum, karena bikin ga nyaman orang yang ngeliat. Bukan karena diriku jomblo terus mupeng ya, tapi yaaaa gaenak aja ga sih, lo lagi buru-buru di eskalator eh di depan lo orang dengan santainya cium-ciuman, seperti dunia milik berdua saja (now I do sound jealous, haha).

4. Masjid di mana-mana
Di Indonesia yang mayoritas muslim, sangat mudah menemui masjid. Jadi gampang banget kalo mau solat atau sekedar ngaso-ngaso, numpang ke toilet, bahkan bisa numpang tidur kalo kepepet. Di Eropa, kalo ga googling ga bakal deh ketemu masjid :") Kalo kepepet gada nginep, ya terpaksa ngemper, kaya pengalamanku kemaren di Praha :") Sholat juga ga bingung kan madep mana, di Eropa aku cuma mengandalkan kompas hp yang ga akurat, bahkan aku sempet melenceng 180 derajat dari kiblat sebenernya -_-"
Lantai 2 bangunan di Praha ini adalah masjid lho, kalo ga nanya ya ga akan ketemu. Siapa sangka ada masjid di situ? :") 
5. Sunny all year long
Di benua 4 musim macam Eropa, yang namanya summer matahari baru terbenam jam 10 malam, dan uda terbit lagi jam 4 pagi. Merepotkan sekali buat equatorians macam saya, yang terbiasa tidur jam 11 bangun jam 4. Lha gimana, mau bobo, masih ada matahari, belum solat maghrib pula. Mau bangun, boro-boro tahajud, bangun jam4 itu waktu subuh uda mau habis :") Ga kebayang deh kalo puasa, lama banget ya haha. Ga denger adzan pula di Eropa, jadi ga tahu ini uda ashar apa blom, haha. Emang Indonesia tampaknya paling ideal buat pemeluk agama Islam, di mana yang namanya solat maghrib itu jam 6, maks 6.30 lah, dan subuh ya jam 4.30, sepanjang tahun :)


Tuesday, June 17, 2014

My First Eurotrip

Eropa. Tanah impian semua orang (atau setidaknya tanah impianku). Menikmati matahari di depan menara Eiffel, menyusuri birunya sungai Danube, piknik di pinggiran kanal Amsterdam, menatap sunset dari cantiknya bukit-bukit Budapest, atau sekedar mengagumi kemegahan bangunan tua di Wina, siapa siiih yang ga pingin?

Alhamdulillah, late spring 2014 kali ini aku berkesempatan menjejakkan kaki di tanah Eropa. Event utamanya sih buat ikutan kongres mahasiswa kedokteran dan biomedis internasional (ISCOMS 2014) di Groningen, Belanda. Dina, temen sekelompok skripsiku, ngirimin karya skripsi kita bersama dan Alhamdulillah lolos presentasi di sana. (Psst, aku gatau lho dia submit. Tau-tau dia ngasi tau pas uda lolos aja, dan ngajak bekpekeran). Mumpung-mumpung lagi libur 4 minggu nih, sekalian aja kita Eurotrip :D Alokasi waktu 2 minggu, dengan budget seminimal mungkin. Jadilah kita berdua ciwi-ciwi hijabers, gone to our first backpacking trip across EUROPE!

Perjalanan dimulai dengan penerbangan GA 88 CGK-AMS tanggal 30 Juni jam 00.55 dini hari. Kenapa pilih Garuda? Karena satu-satunya maskapai yang merespon proposal kami dan ngasi diskon buat airfare nya. Yaay! Total kami bayar USD 925 buat PP Jakarta-Amsterdam. Mayan laah, kalo selevel Garuda biasanya jauh lebih dari itu, minimal USD 1200 lah. Trus ternyata, flight kami yang tanggal 30 itu merupakan penerbangan Garuda pertama yang direct Jakarta-Amsterdam tanpa transit. Istilahnya Inauguration Flight. Sebelumnya aku juga tau sih kalo GA CGK-AMS itu direct, tapi aku gatau kalo ternyata tgl 30 Juni itu penerbangan direct pertama :p Kami para penumpang disambut dengan buffet enak di ruang tunggu boarding (dimsum, bakso malang, quiche Lorraine, berbagai minuman segar, dll) dan dikasi souvenir eksklusif scarf sutra yang cantik banget J Alhamdulillah ya, belum berangkat uda ada keberuntungan macam ini, semoga pertanda baik buat perjalanan selanjutnya J

Sampai Amsterdam jam 9 paginya (perjalanan direct flight 14 jam, dengan perbedaan waktu Amsterdam 5 jam lebih lambat daripada Jakarta). Di bandara Amsterdam Schiphol pun kami disambut noni-noni Belanda yang bagiin tulip kayu dengan tag “Inauguration Flight Garuda Indonesia Jakarta-Amsterdam” yeey!

Kesan pertama di Eropa: rapih! Aku bukannya asing ya, dulu juga sempet ke bandara KLIA di KL, Malaysia. Schiphol ini ya mirip-mirip KLIA gitu lah, ya jangan dibandingin sama Soekarno-Hatta, wkwk. Bandaranya bersih banget dan gede banget.

Kesan kedua: Culture shock! Baru aja keluar di pintu arrival, eh ada pasangan bule yang dengan cueknya cium-ciuman. Hehe, baru pertama kali ini liat orang ciuman langsung dengan mata kepala sendiri. Di Eropa yang namanya PDA udah biasa ya, ga berapa lama kemudian juga aku menemukan banyak yang semacam itu; peluk-pelukan, gandeng-gandengan, dll. Biasa aja di sana, yang ga biasa ya akunya, risih, haha.
Setelah berbingung-bingung finding our way around Schiphol, kita pun naik kereta ke pusat kota Amsterdam. Stasiun keretanya pas di bawah bandara, jadi tinggal turun escalator doang. Harga tiket sampe stasiun Amsterdam central 4,5 Euro. Keretanya juga oke bgt bo, double decker. Dan free wifi :D

Sesampainya di Central Station, aku nitipin koper ke seorang temen di Amsterdam, sebut saja Bunga (emang namanya Bunga btw :p) Daaaan perjalanan Eurotrip of my life pun dimulai!
Secara kasar, selama 17 hari aku di Eropa, aku merencakan ke tempat-tempat berikut:
  •           Amsterdam, NL
  •           Groningen, NL (for the congress)
  •           Brussel, BE
  •           Paris, FR
  •           Praha, CZ
  •           Wina, AU
  •           Roma, IT
  •           Barcelona, SP
  •           Berlin, DE

Untuk ke mana-mananya, setelah googling2 dan tanya2, metode paling murah dan feasible adalah dengan Eurolines Pass. Eurolines itu nama perusahaan bus gitu, yang melayani perjalanan across Europe. Harga buat under 26 di bulan itu (mid-season) adalah 215 EUR, yang dengan Pass tsb kita bebas ke mana aja di Eropa selama 15 hari. Literally ke mana aja, mulai dari Eropa selatan macam Spanyol Itali sampai Eropa Utara negaranya para Viking Skandinavia, bahkan sampe UK. Tapi yaa karena keterbatasan waktu, akhirnya itinerary kita jadi begini:
Amsterdam – Brussel – Paris – Amsterdam – Groningen – Amsterdam – Budapest – Bratislava – Wina – Praha – Berlin – Paris – Amsterdam.


Ke Amsterdamnya berkali-kali ya, istilahnya sebagai tempat transit, soalnya kan kita naro koper di sana, dan setelah kongres di Groningen kita emang kudu balik Amsterdam dulu sebelum ke Budapest karena gada trayek Groningen – Budapest. Terus Paris nya dua kali, karena Paris emang ga cukup sekali J 

Sebenarnya kita berat banget ngorbanin Roma – Barcelona, tapi dilihat dari waktu dan ketersediaan jadwal bus, habis dari Roma itu kita susah banget kemana-mana. Bus dari Roma Cuma seminggu 2-3 kali itu pun Cuma ke kota-kota tertentu. Jadilah kita ganti tujuan ke Budapest. Padahal tadinya uda booking Amsterdam – Roma loh, dan uda ngebayangin bakal mengagumi kejayaan Romawi dan bakal do as the Romans do. Tapi ya harus realistis lah, waktu terbatas dan budget pas-pasan. Bye Roma, bye Barcelona, semoga diketemuin lagi di waktu yang lebih baik dan bersama orang yang lebih special (ngayaaal wkwk :”))

---bersambung ke cerita masing-masing kota

Wednesday, May 7, 2014

An Abundace of Katherines, a review

I've been wanting to read John Green novels since... like a year, but I just could not get hold of him. When I went to Jogja last November, I saw my friend's copy of "The Fault in Our Stars" and "Will Grayson, Will Grayson" on her shelf, but of course I could not borrow because she lives in Jogja. When last week I spent a lazy afternoon in Gramedia Grand Indonesia, I came across a John Green's box set, English edition, but what a splurge (box set consisting 4 books, @IDR135000). So since I have nothing much to do at the moment, I decided to Google and download them (Sorry John, but I want you to know that I do support you, I just do not have the money).

My first experience of John Green is not "The Fault in Our Stars", as others would expect. Instead I started on "An Abundance of Katherines", because I found the synopsis about a boy who fall in love and get dumped by 19 Katherines intriguing.

Colin Singleton is a prodigy, as he would so often explain to others about differences between "prodigy" and "genius". He is said to have an IQ above 200, and he was able to read newspapers by the age of 25 months old. While other prodigies excel at math, Colin found himself gifted in linguistic. He speaks 11 languages, and if that is not enough, he can anagram any sentences/phrases/words you throw at him. He does love anagramming. He even anagram "I do love anagramming" to "dragon maggot mania".

Colin's parents work so hard to keep him "normal", admit him in normal school with normal people in normal age. And so Colin grows to be a socially-sufficient young guy, who has friend (just one, though), and falls in love with girls. What makes Colin different, is that he does not fall in love with any girls, he just falls for girls named Katherine. And by the time the story starts, he is just get dumped by Katherine the 19th (or K-XIX, as you'd please). He just moped on his carpet until his friend Hassan took him on a roadtrip. They ended up in Gutshot, Tennessee, while randomly visited Archduke Franz Ferdinand's grave whose corpse started the World War I. They met a nice local girl, with whom they made friends instantly. Her mother even got them jobs and let them stay in her house. And there the story goes about Colin's attempt to overcome his heartbreak. As prodigies would do, he spent his days working on Colin-Katherines Theorem, which he invented based on his previous relationships with Katherines. He hoped someday he'd find the Theorem useful in helping him predict a happy relationship with a Katherine.

I like this book. Although the Colin character is unbearably whiny, he sure displays a prodigy quality (and that is what I like, smart guys). It is amazing to listen to Colin trying to tell a story, because he often rambles and tell extraneous details that interests only him. Like, when he tells you about how he wanted to matter, then he shifted to tell you about the time he first thought about being matter when he wanted to pee in a zoo, and why he wanted to pee is because overhydration, and how 8-glass a day is bullshit since there's really no scientific proof of its benefit, and how people just take things like that for granted because they are incurious, and how incurious is one of those words that sounds like it wouldn't be a word but is.

I am amazed to watch how Colin's brain work. Do you know how he can be so good in studying? He reads a lot, and he memorizes almost any details in every book he has read. Like, when we came across an interesting details in a book, it becomes stuck in our mind. Well, Colin found everything interesting. And he always found a reason why they fascinate him.

And reading this book surely adds me a whole lot of random trivia, like about Franz Ferdinand, and about German word for carpenter is Tischler. Random, right, but I think I can relate to Colin and his interest in random stuff.

If there's one thing I disliked about this book, it is about the math. Proving a Colin-Katherine Theorem includes a lot of math, and I just can't take that loads.

So, I am looking forward for another John Green. Any suggestion on what should I do next? "The Fault in Our Stars"? "Looking for Alaska"? or maybe "Paper Towns"?

Thursday, May 1, 2014

Exciting Invitations

Long time no update? heeee forgive me ;(

So, koas life will end in 2 weeks! How fast time flies! Of course I still have Internal meds, Peds, Surgery, and Obgyn, but let's not worry about them until August :D

Now I am on cardiology rotation, held in National Cardiovascular Center Harapan Kita, which is in Grogol, which is like 30 min bus ride from my place, which is why I've been so early birdie these days. Cardiology is FUN. Remember that times when I said I plan to be a cardiologist? I'd been discouraged since cardiology module on 4th semester was disappointing, but now that I am getting hands-on clinical experience, I remember why I want to be cardiologist in the first place.

Cardiology studies the heart. Heart is the "heart" of our bodies; disease of the heart can manifest in a hell lot of presentations. The common chest pain, the ugly swollen legs, the sudden blinding of the eyes, the cranky stomach, everything. Since heart pumps blood, and everything needs blood. So when heart fails, everything fails. All the more fun, studying the heart is sooo logical, I almost don't have to memorize anything as long as I know how the heart works! Unlike neurology when I have to memorize the neural pathways, in cardiology I just need to understand the normal heart cycle, and voila! I know what murmur in all four-auscultation-sites mean. This is what you'd call fun. Logic.

And after cardiology, I'll have 4 weeks holiday! I've already gotten a very interesting invitation to present my research in Groningen, The Netherlands. I need a lot of money though. I am working on it, since THIS IS GONNA BE MY FIRST EUROTRIP! KYAAAA!!! (I reeaaaallly wish I did the fundraising right, otherwise, who on earth has IDR20000000?? Well I guess a lot of people have, but I dont have 20M)

Should my Eurotrip fails (Which I hope WON'T), I still have another offer to be a LO in ..... drumroll..... INTERNATIONAL BIOLOGY OLYMPIAD a.k.a IBO 2014! The event of my dream! This year they're holding the IBO in Bali, Indonesia. Regisrations for volunteer had been commenced, and after a Youtube post and an interview, I GOT IN. I'LL BE IN IBO! heheheheheh forgive me for being overexcited, but this is really really exciting! I could only dream about IBO since I failed on OSP 2009, but now, I'll be joining IBO 2014 :") All thanks to Allah and superkind dr. K (head of EBM module) who agreed to arrange a special exam for me so I could join this IBO (I happen to be having an exam while IBO is in action, so I need to reschedule my exam) :D Well, can't wait for July 2nd!

Monday, April 7, 2014

Jadi Turis di Jakarta

So, weekend ini gw lonely lonely lonely lonely lonely lonely lonely (harus banget 6 kali). Sabtu gw Cuma lari pagi di koridor kosan lantai 2 (et cause kesiangan dan panas kalo lari di luar), gegoleran doang di kasur, baca Sherlock, bobo, nyuci, solat, makan, udah. Oiya, sama menikmati mentari sore di atap sambil baca Kafka-nya Murakami. Pokoknya nerdy dan lonely deh. Gawat kalo uda lonely gitu gw rentan galau.

Untungnya Alhamdulillah, Ahad gw akhirnya memaksakan diri keluar walaupun mager. Setelah lari pagi (yang di koridor lagi akibat kesiangan lagi), gw nutor Bahasa Arab di perpusnas depan Monas. Jadi, sudah beberapa bulan ini gw volunteer di komunitas @faktabahasa sebagai tutor Bahasa Arab buat regio Jakarta Barat-Pusat-Utara. Mayan, mengisi waktu dan refreshing Bahasa Arab yang sudah lama pudar, hehe. Hari ini gw memutuskan memenuhi request adek2 tutoran gw untuk belajar tentang binatang dalam bahasa Arab. Ingat metode jaman SD dulu yang paling efektif belajar mufrodat (vocab) adalah dengan lagu. Jadilah gw melist binatang2 dan gw laguin pake lagu solawat badar. Hehe, mayan looo adek2nya jadi cepet apal. Gw juga jadi apal setelah sekian lama lupa haha. Pokoknya sesi tutorial kali ini seru deh.

Selesai tutorial, gw seperti biasa mampir ke musholla Perpusnas untuk solat Dzuhur. Tapi ndilalah, airnya mati -____-“ Gw bergumam apa gw solat di JCC aja ya, secara rencananya gw emang pingin ke JCC abis nutor, mau liat Kompas Gramedia Fair dalam rangka memperingati ultah Gramedia ke-40. Yaudah, gw jalan ke shelter Busway terdekat a.k.a shelter BI. Pas gw jalan, eh gw melihat suatu masjid indah megah di kejauhan. Kayaknya itu masjid BI yang terkenal itu deh. Gw ada rencana mengunjungi masjid ini dalam rangkaian safari masjid sama temen2 (yang batal mulu karena pada sibuk). Yauda sekalian aja gw memantapkan hati jalan ke masjid tsb. Mayan jauh bo, 500 meteran. Dan yang menyakitkan adalah: pintu masjidnya tertutup, pagernya terkunci. Jam 2 siang. Ya ampyun, masjid cakep2 kok kuncian, kecewa sih. Untungny ibu2 baik di depan masjid nunjukin musholla terdekat, yakni musholla IGD di RS sebelah masjid BI. Haha, weekend pun RS lagi, RS lagi -__-. Alhamdulillah mushollanya bersih dan nyaman.

Selesai sholat, gw tiba2 mager ke JCC. Yaa, mau ngapain juga di sana, jauh2 paling Cuma nongkrong doang. Gw juga gada rencana beli buku, lagi gada budget. Hmmmm, jalan pulang aja kali ya. Tiba2 ada pemandangan menarik melintas di depan mata gw: bus double decker!  Kyaaa langsung inget banget video klipnya One Direction yang settingnya di atas bus double decker dan segala keklasikan London di balik jendelanya :D Bus tersebut bertuliskan “Jakarta City Tour” dan tertulis tujuan “Bunderan HI – Pasar Baru”. Wiii apa gw mau sok-sok turis aja ya. Gw pun nanya ke Ibu2 penyapu jalan, beliau bilang gw bisa ngantri naik bus city tour ini dari depan Museum Nasional.

Skalian aja deeeh gw masuk ke Museumnya. Bayar 5000, mayan lah murah kok. Bangunannya bagus gituuu kaya Parthenon Yunani haha. Trus dalemnya juga berisi macem2 koleksi yang oks banget. Gw jdi belajar banyak kebudayaan Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Timor sampai ke Talaud. Kenapa masyarakat Toraja membangun atap rumah berbentuk demikian, kenapa selalu madep ke utara? Kenapa orang Papua pake koteka? Dari apakah koteka itu? Silakan liat sendiri di Museum Nasional, hehe. Gw juga belajar banyak mengenai adat gw sendiri, adat Jawa. Jadi tau susunan dan komponen2 gamelan jawa, dan wihiii bisa bedain kenong dan bonang. Tau juga bentuknya Saron kaya gimana. Eeeh terus juga inget lagi Pandawa lima, mulai dari Yudistira sampe Sadewa.

Selain Gedung Lama yang kaya Parthenon itu, museum Nasional juga punya gedung baru yang lebih cakep dan gede. Gedung ini full AC, 5 lantai, dengan koleksi yang ga kalah kerennya. Bisa liat juga pemandangan indah Jakarta secara gedungnya berdinding kaca <3 p="">

Puas liat-liat dan uda solat, gw pun bergabung dengan para pengantri bus city tour di depan Museum. Hmmm cukup popular bo ternyata, maklum gretong hahaha. Saat bus datang pun uda waswas ga dapet naik, tapi Alhamdulillah gw dapet duduk walaupun ga di atas. Gapapalah, yang penting naik dulu.
Jadi ternyata dalam bus ini uda ada beberapa guide dan polisi dengan emblem Polda Metro Jaya. Dan supirnya ternyata cewek loo. Saat naik kami diwanti2 ama guidenya bahwa gaboleh ada penumpang berdiri, AC jangan ditutup, dilarang makan minum, dan penumpang Cuma boleh satu puteran, dan disuruh follow twitternya @JakartaCityTour. Sayangnya hp gw mati, boro2 twitter, mau mendokumentasikan bus keren ini aja gabisa :')

Karena gw naik dari Museum Nasional, jadi gw Cuma boleh naik sampe bus ini berhenti di Museum Nasional lagi. Bus ini akan berhenti di Museum Gajah, Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), dan Sarinah. Wihiii perjalanan sebagai turis pun dimulaai. Sampai GKJ Alhamdulillah gw bisa pindah duduk di atas :p (norak). Sepanjang jalan, guidenya banyak cerita mengenai sejarah Jakarta dengan cukup gokil. Ini beberapa pengetahuan yang gw dapet selama naik City Tour.
  1. Tau ga sih kalo ternyata Museum Nasional Indonesia alias Museum Gajah adalah  museum terbesar di Asia Tenggara? Gw juga baru tau
  2. Disebut Museum Gajah, karena di depannya ada patung Gajah yang merupakan hadiah dari Raja Chulalongkorn of Thai, ketika beliau berkunjung ke Batavia
  3. Nama Pecenongan diambil karena di daerah tsb dulu rumah-rumahnya suka menggantung cenong, sejenis lampu petromaks gtu deh
  4. Hotel Sriwijaya adalah hotel yang pertama dibangun di Jakarta
  5.  Lapangan Banteng dulu namanya bukan Lapangan Banteng (Lapangan Garuda kalo ga salah, lupa deng). Berubah sejak tahun PNI menang Pemilu, karena PNI lambangnya banteng (Soekarno demen ama banteng) jadilah namanya Lapangan Banteng
  6.  Daerah Harmoni dinamakan demikian karena di sudut jalannya, terletak kantor secretariat negara. Lo kok ga nyambung? Haha, karena dulunya di gedung Sekneg tsb ada gedung peristirahatan yang suka jadi tempat kongkownya bangsawan Belanda, namanya ada Harmoni-Harmoninya (bahasa beland gitu deh). Sekarang gedung peristirahatan tsb sudah diruntuhkan jadi tempat parkirnya Sekneg
  7. Awam boleh mengunjungi Istana Merdeka lho, dengan sebelumnya bikin appointment dulu di Sekneg ini. Bikin appointmentnya bisa Senin-Jumat, tapi kunjungan ke Istana Merdekanya di hari Sabtu-Ahad, daaan harus dengan baju formal macam kuliah di FK gitu hehe
  8. Di atas jembatan deket Sekneg, ada patung Hermes sang dewa penyampai pesan. Yang gw bingung, what Hermes has to do with Sekneg?
  9.  Istana Merdeka adalah semacam White House nya US di mana Presiden berkegiatan sehari-hari, pusat pemerintahan gtu lah. Dan bentuknya pun ga jauh beda ama White House, haha. Jadi inget film Olympus Has Fallen yang gw tonton baru2 ini. Di situ White Housenya tough banget, dijaga banyak ajudan. Di Istana Merdeka ini cenderung sepi ya, ga keliatan siapa2 malah. Lagi pada di dalem kali ya J
  10. Jalan Veteran 3 emang jalan kecil, tapi di sepanjang jalan inilah terletak pusat pemerintahan Indonesia: Istana Merdeka, kantor wapres, MA, dll.
  11. Di jalan Pos, terletak kompleks sekolah Katolik tertua di Jakarta, Santa Ursula. SanUr ini sekompleks juga sama Gereja Katedral, yakni gereja Katolik tertua yang arsitekturnya mirip di Eropa gitu deh
  12. Gereja ini bersebrangan dengan Masjid Istiqlal (masjid kemerdekaan), masjid terbesar di Asia Tenggara yang mampu menampung 250.000 jamaah dalam satu waktu. Arsiteknya trnyata orang Nasrani lo, yang juga mengarsiteki Monas, tapi lupa namanya siapa :p
  13. Monas tingginya 130an meter, dengan arsiteknya pertama Mr. Arsitek Istiqlal, tapi kemudian diganti dengan arsitek lain yang aduh gw juga ga inget namanya L. Kalo mau naik ke Puncak Monas bisa lho, cukup bayar 10rb aja kata guide City Tour nya. Di puncak Monas itu, ada lidah api yang bersepuh emas 18 karat seberat 50 kg
  14. Dan taukah kamu, kompleks taman Monas itu luasnya mencapai 80 hektar, dan merupakan kompleks taman terluas kedua di dunia. Yang pertama? Bukan, bukan Central Park NYC, melainkan suatu taman di Moskow, Rusia
  15. Gw baru tau juga kalo bangunan di sebelah Perpusnas tempat gw biasa tutor Bahasa Arab adalah Balai Kota DKI Jakarta, tempat kerjanya Pak Jokowi dan Ahok. Di sebelahnya juga adalah gedung DPRD DKI, di mana berkedudukan staf Pemprov DKI Jakarta. Wohoo baru tau, pantesan di depannya ada shelter busway yang namanya “Balai Kota” :D
  16. Gedung Perpusnas itu sendiri sebenarnya sudah dialihfungsikan sebagai gedung Arsip, karena Perpusnasnya pindah ke Salemba. Padahaaaal menurut gw kebalik, yang lebih layak disebut perpus ya yang di samping Monas ini, yang di Salemba kesannya lebih tertutup, kayaknya itu deh Gedung Arsip nya (sotoy). Kalo nganggur, mampir deh ke Perpusnas samping Monas ini, perpusnya bagus looo dan bukunya lumayan lengkap. Nyaman juga tempatnya, kalo ga nyaman kan ga bakal jadi tempat tutor Bahasa Arab gw heheh
  17. Muhammad Husni Thamrin lahir pada 16 Februari 1894 (kalo tanggal gw inget -__-) di kawasan Sawah Besar. Beliau adalah orang asli Betawi yang pertama kali mempopulerkan istilah “Betawi” karena pribumi susah bener nyebut “Batavia”. Beliau juga punya julukan sendiri dari teman2 Betawinya, Mad siapaa gt. Gw juga baru tau di sini bahwa Mad itu singkatan dari Muhammad, namanya MH Thamrin. Ohoho, jangan2 Mat Solar juga punya kepanjangan nama ya :D
  18. Sarinah adalah mall yang cukup bersejarah di Jakarta. Sarinah diambil dari nama pengasuhnya Soekarno
  19. Bunderan HI diarsiteki oleh orang yang berbeda dengan yang mengarsiteki Monas dan Istiqlal. Patungnya itu, Patung Selamat Datang, menghadap ke Utara. Bukan untuk menghormati Tuhan di utara seperti Orang Toraja, tapi untuk menyambut tamu-tamu Indonesia. Karena dulunya, bandara Internasional Jakarta terletak di Kemayoran yang notabene di utara
  20. Hotel Indonesia Kempinski adalah hotel berbintang yang pertama dibangun di Jakarta
  21. Kawasan Segitiga Emas Jakarta (Sudirman, Thamrin, Kuningan) dinamai demikian karena merupakan rumah bagi pusat perekonomian dan pemerintahan Indonesia. Banyak banget gedung-gedung tinggi di sepanjang jalanan segitiga emas. Trotoarnya juga yang paling decent menurut gw, walaupun kalo weekday ampun deh macetnya.

Sudah sampe Museum Nasional lagi, waktunya gw turun, gantian ama penumpang lainnya. Overall, double decker ini enak banget: Nyaman busnya, gokil guidenya, oke rutenya buat belajar sekaligus wisata :D Yuuuuk #visitJakarta




Kulit Kelamin!

Cuma satu kata yang mewakili selesainya stase kulit ini: SUPER. Super lega dan super bersyukur. Alhamdulillaaaah, rasanya tiga minggu yang beban banget uda terangkat :D

Sebenernya merasa beban banget juga cuma di awal doang sih, tak lain tak bukan karena tingginya ekspektasi dari dr. H, ketua modul kulitnya. Beliau berharap kami koas-koas bisa menangani semua kasus kompetensi dokter umum di bidang kulit kelamin sampai tuntas. Tuntutannya sebenernya ga muluk-muluk sih, secara kan emang sebagai dokter umum di Indonesia uda seharusnya kami mengausai kompetensi2 tsb. Sayangnya, di kulit, yang termasuk kompetensi dokter umum banyak bingiiiitz, ga kaya di stase2 sebelumnya. Terasa banget bingungnya belajar saking banyaknya yang mesti dicover.

Selain materinya, yang terasa beban banget adalah nyari pasiennya! Biasanya kami disuruh nyari pasien ga banyak2 lah, paling Cuma buat difollow up dua doang, maksimal 3. Di kulit ini, buat ujian portfol aja harus dapet 4 pasien, belum lagi nyari buat mini-cex dan PKL dan PKP (intinya nyari pasien harus banyak banget deh). Dan ini jujur saja membuat tidur gw ga bisa tenang, karena setiap malem selalu mikir “duh besok ada apa ya, harus nyiapin apa ya” karena pasti ada aja sesuatu, kalo ga PKL ya minicex dll. Belum lagi beban belajar ini-itu, mana dikasih PR sama dokternya (“cari sendiri ya” “coba tulis resepnya obat dermatitis ya” “baca buku ini bab itu ya”) AMPUN TUAN AMPUN NYONYA.

Tapi di akhir alhamdulillaaaah banget husnul khotimah. Ga seperti di stase lainnya (anti mainstream banget ya kulit hehe) yang satu penguji menguji dua koas, di kulit ini ujiannya satu koas dengan dua penguji! Nah lo. Aku dapet penguji yang menurut rumor sih sangar dan pelit nilai, tapi pas hari H ujian, di luar dugaan baik banget tuh beliaunya. Kalo aku gabisa jawab, beliau akan memancing-mancing sampe aku mengeluarkan jawaban yg tepat. Kalo uda ga tau beneran, beliau akan kasi tau (instead of jurus andalan “cari sendiri ya nanti di rumah”).

Daaaan karena yang dipelajari banyak sekali, sampai printil-printilannya pemeriksaannya, sampai teknik edukasi pasiennya, selesai kulit ini aku merasa dapet banyaakkk banget. Sampe rasanya pingin SMS semua dokter-dokternya bilang makasih atas bimbingannya dan ajarannya :”) Oiya, di kulit ini kami disediain satu dokter sebagai tutor, dan kebetulan tutorku adalah seorang SpKK yang modis banget dan baik banget. Beliau eyeliner nya selalu ganti2 warna, matching sama bajunya. Kalo bajunya ijo, eyelinernya juga ijo, eh gelangnya ikut ijo, pokoknya serasi dan enak dilihat banget J) apalagi dokter SpKK kan emang mulus2 hahaha. Trus ngajarinnya juga baik bangeet. Tutorialnya kita di kafe Oh La La, dibagiin pulpen lagi haha. Makasiiih dok. Trus trus bonus konsul lagi. Salah satu temen gw yang tutorial sama beliau, konsul jerawat, eh dikasi facial wash produk beliau heheheh. Kayaknya gw juga akan berobat ke beliau aja deh ;D

Yang berkesan dari stase kulit ini, mungkin temennya. Siapa temennya kulit? Siapa lagi kalo bukan Kelamin, hahaha. Iya, jadi di stase ini selain melihat banyak kelainan kulit yang ngeri-ngeri, kami juga liat kelainan-kelainan kelamin, terutama penyakit yang tergolong Infeksi Menular Seksual (IMS). Iyuh? Jijik? Ya aku bohong kalo bilang enggak. Tapi salah satu syarat utama jadi dokter kan: gaboleh jijik! Ya jadi endure2 aja deh meriksain kelamin orang. Yang lebih menantang sebenarnya sih anamnesisnya alias wawancara pasiennya. Namanya juga infeksi menular seksual, jadi yaaaa pertanyaan2 yang diajukan ke pasien ga jauh2 dari kehidupan seksualnya. Risih? IYA BANGET. Tapi jadi dokter gaboleh keliatan ga professional kan? Jadi yaaaa pede aja nanyanya, justru kalo gagap2 malah pasiennya males cerita. Di sini lah kemampuan komunikasi diuji banget, gimana kita bisa membuat pasien itu percaya dan mau jujur sama kita sehingga mau cerita hal-hal pribadi. Pertanyaannya bener2 intim banget, tapi mau gamau ya harus ditanyakan, demi kita bisa mendiagnosis pasien dengan tepat :” Berdasarkan pengalaman sih, pasien cewek biasanya akan lebih jujur saat ditanya, sementara pasien cowok cenderung dusta. Yaaa kita tau dong kapan pasien boong, soalnya kan, darimana coba pasien dapet infeksi menular seksual kalo ga dari kontak seksual?

Paham banget sih, pasien mungkin ga akan jujur sama kita di depan istri/suaminya, jadi ya pinter2 kita nyari kesempatan nanyanya aja. Yang repot, kalo misalnya suami istri sudah saling menyalahkan “Tu kan papa ada main” “Enggak lah, ini pasti mama yang nularin papa, mama sih genit” Naaah kalo uda gini, peran dokter lah mengedukasi. Bisa sih diketahui siapa nularin siapa, tapi kita gaboleh kan memecah prahara di rumah tangga orang? Jadi pinter2nya dokter ngomong aja. Sekalian aja nih gw jelasin, bisa aja kita tertular IMS dari orang yang (keliatannya) sehat, karena beberap jenis IMS bisa muncul asimptomatik alias ga bergejala. Mungkin dia keliatannya sehat aja, tapi siapa tauuuu dia membawa suatu penyakit IMS yang bisa menulari kita lewat kontak seksual. Cara menghindarinya ya Cuma satu: safe sex. ABC (abstinence, be faithful, condom). Apa niih kok gw jadi sex ed gini. Ya gapapalah itung2 edukasi haha.

Jujur aja, sejak belajar IMS, gw melihat seks itu sebagai sesuatu yang menjijikkan. Pinginnya sih punya anak without sex, tapi mana bisa, kan gw bukan Maryam r.a? :” jadi curcol.

Yawis, pokoknya ini stase seru! Berat di awal, tapi terbukti bermanfaat banget di akhir! J