Monday, January 14, 2013

Suku Bubuhu

Dulu, saat Indonesia masih belum dijajah Belanda, banyak kerajaan menduduki kepulauannya. Salah satunya kerajaan Buana di pulau antah berantah. Kerajaan Buana diperintah oleh seorang Raja yang tegas dan adil, ditemani Patih yang sangat bijak. Sang Raja sangat mempercayai Patihnya, dan tidak pernah memutuskan sesuatu apapun tentang kerajaan tanpa mendiskusikannya dengan Patih terlebih dahulu.

Suatu hari, Raja sedang bersiap-siap melakukan perburuan rutin ke Hutan. Namun karena daerah berburunya kali ini belum pernah dijamah manusia, ia ingin ditemani Patih. Patih pun setuju untuk menemani Raja berburu. Maka berangkatlah Raja, Patih, dan beberapa prajurit pilihan ke Hutan Cakra Kencana.

Setelah beberapa kilometer berkuda, tiba-tiba ada sesuatu yang berkeresek di lantai hutan. Raja, mengira itu buruan yang besar, segera mengejarnya, diikuti Patih dan para prajurit. Ternyata, makhluk yang menimbulkan bunyi itu bukan hewan buruan, melainkan seekor ular yang sangat besar dan tampak galak. Raja pun sigap mencabut pedangnya. Namun ular itu lebih sigap dari Raja. Tepat sebelum Raja menebas kepalanya sampai lepas dari tubuh panjangnya, ia sudah lebih dulu menancapkan sepasang taring berbisa ke kelingking Raja.

Raja melenguh kesakitan dan melihat jari kelingkingnya bengkak. Patih seketika tahu, ular yang menggigit Raja bukan ular biasa, melainkan ular yang bisanya mematikan hanya dalam beberapa menit.

"Cepat, Raja, sebelum racun ular itu menyebar ke tangan Paduka, segera potong jari kelingking Paduka!" saran Patih tergesa-gesa.

Raja yang sangat mempercayai Patih pun tanpa berpikir langsung memotong kelingkingnya. Segera saja Raja merasa lebih baik, tidak lagi pusing keliyengan. Namun ia jadi bisa berpikir jernih lagi dan menggerutu sambil berkuda bersama rombongannya, "Alangkah sialnya aku, bukannya dapat buruan, malah digigit ular dan kehilangan jari kelingking pula"

Sang Patih yang bijaksana menyahut "Ah Paduka, yakinlah bahwa semua ini pasti ada hikmahnya, termasuk juga kelingking Paduka yang terputus"

Mendengar itu Raja semakin kesa; "Gara-gara kau, Patih, aku jadi memutuskan jariku. Beraninya kau bilang ini semua akan berguna. Prajurit, jebloskan Patih tak tahu diri ini ke penjara!"

Patih yang bijak itu hanya tersenyum lemah. Ia dan beberapa orang prajurit kembali ke istana untuk memasukkannya ke dalam penjara. Sementara itu, Raja dan prajurit sisanya kembali melanjutkan perburuan ke hutan yang lebih dalam lagi.

Semakin jauh mereka berkuda, tanpa sadar, mereka memasuki wilayah Suku Bubuhu yang primitif dan menganut waham animisme. Tiba-tiba saja mereka sudah terkepung dikelilingi para anggota suku yang bertampang buas dan liar.

"Asyik sekali, hari ini dapat banyak untuk persembahan pada para Dewa dan Roh. Ayo kita bawa ke KepSuk (kepala suku, red.)" kata salah seorang di antara mereka.

Raja dan prajuritnya yang hanya sedikit tidak berdaya melawan Suku Bubuhu yang jauh lebih banyak daripada mereka. Pasrah saja mereka digiring ke hadapan KepSuk Bubuhu. Anggota suku Bubuhu liar-liar dan jelek-jelek. Benar saja, KepSuknya ialah yang kelihatan paling liar dan paling jelek. Sang KepSuk agung itu tampak senang sekali melihat Raja dan prajuritnya. Namun saat memeriksa Raja, ia mendadak marah.

"Yang ini jarinya tak utuh! Kelingkingnya hilang! Lepaskan saja, daripada kalau kita korbankan dia malah bawa sial nantinya!"

Raja pun dibebaskan. Tidak percaya dengan keberuntungannya, Raja segera berkuda dengan kecepatan penuh kembali ke istana, dan tanpa membuang waktu lagi ia turun ke penjara bawah tanah menemui Patih.

"Paman Patih, maafkan aku. Ternyata memang benar putusnya kelingkingku ini menyelamatkanku dari Suku Bubuhu yang mau mengorbankan aku buat Dewa mereka. Terima kasih sudah menyarankan memutuskan kelingkingku,  Paman!" kata Raja sambil sesenggukan.

"Sudahlah, Paduka. Hamba juga berterima kasih sekali pada Paduka,.."

"Loh, kok kamu juga berterima kasih, Paman Patih?"

"Ya kalau saja Paduka tidak menjebloskan hamba ke penjara ini, tentu hamba juga sudah jadi korban Dewa Suku Bubuhu"

Keduanya tertawa, dan sejak itu, Raja semakin menghormati Patihnya dan tidak pernah lagi meragukannya.


disadur dari "Pesantren Dongeng" by Awang Surya. hikmahnya? :)

No comments:

Post a Comment